Cerita Hot Terbaru: Nikmatnya Tubuh Janda Muda Sebelah Kostku

Cerita Hot Bergambar Terbaru: Nikmatnya Tubuh Janda Muda Sebelah Kostku – Sebuah kisah ngentot atau cerita sex terbaru 2018 seorang pemuda dengan seorang cewek yang menjanda dan haus seks. Mereka bersetubuh kala warung sudah tutup. Bagaimana petualangan seks keduanya? Silahkan simak kisahnya berikut ini!

Namaku Otong (bukan nama sebenarnya), aku bekerja di sebuah perusahaan cukup terkenal di Jawa Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di daerah perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut terkenal dengan gadis-gadisnya yang putih, cantik & manis. Aku dan teman-teman kost setiap pulang kantor selalu menyempatkan diri untuk menggoda cewek-cewek yang sering lewat di depan kost.

Di sebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti, permen, dsb itu ada semua. Aku sudah langganan dengan warung sebelah. Kadang kalau sedang tidak membawa uang atau saat belanja uangnya kurang aku sudah tidak sungkan-sungkan untuk hutang.

Warung itu milik Mbak Ita (tapi aku memanggilnya Teteh Ita), seorang janda muda beranak satu yang tahun ini baru masuk TK nol kecil. Teh ita masih cukup muda saya taksir umurnya dibawah 30 tahun, parasnya sangat cantik khas cewek sunda, body-nya sangat aduhai, semok-semok gimana gitu, toketnyapun lumayan besar, pokoknya hot banget deh.

Warung Teh Ita buka pagi-pagi sekitar jam lima, terus tutupnya juga sekitar jam sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh Teteh Ita sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna namanya.

Seperti biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai sarung terus sudah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang.., apa ya..?, Oh ya rokok, tapi setelah aku lihat jam dinding sudah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit (malam), aku jadi ragu, apa warung Teteh Ita masih buka ya..?, Ah.., aku coba saja kali-kali saja masih buka. Oh, ternyata warung Teteh Ita belum tutup, tapi kok sepi.., “Mana yang jualan”, batinku.

“Teteh.., Teteh.., Dik Krisna.., Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi seperti ini, kali saja lupa nutup warung.

Ah kucoba panggil sekali lagi, “Permisi.., Teteh Ita?”.
“Oh ya.., tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.

Yang keluar ternyata Teteh Ita, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya baru selesai mandi juga habis keramas.

“Oh.., maaf Teteh, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Krisna mana?
“O.., Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas Otong Teteh pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”.
“Tidak apa-apa kok Teteh, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus handuk.., putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat sebagian besar tubuh Teteh Ita yang lumayan semok dengan buah dada yang aduhai dibalik handuknya, soalnya biasanya Teteh Ita selalu menggunakan pakaian yang tertutup.

Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Teteh Ita tidak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

Malam gini kok belum tutup Teh..?
“Iya Mas Otong, ini juga Teteh mau tutup, tapi mo pake’ pakaian dulu?
“Oh biar Saya bantu ya Teteh, sementara Teteh berpakaian”, kataku.

Masuklah aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.

“Wah ngerepoti Mas Otong kata Teteh Ita.., sini biar Teteh ikut bantu juga”. Warung sudah tertutup, kini aku pulang lewat belakang saja.
“Terimakasih lho Mas Otong..?”.
“Sama-sama..”kataku.
“Teteh saya lewat belakang saja”.

Saat aku dan Teteh Ita berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk Teteh, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan Teteh Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam merah yang agak transparan ehingga bulu jembutnya samar terihat dibalik celana dalammya itu. Teteh Ita menjerit sambil secara reflek menutupi toketnya yang tanpa BH dan lumayan besar dan seksi itu.

“Mas Otong.., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Teteh”, kata Teteh dengan muka merah padam.

Aku jongkok mengambil handuk Teteh yang jatuh, saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah, dengan background hitam rambut-rambut halus di sekitar vaginanya yang tercium harum.

Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh Teteh dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yang sudah bangun sejak tadi menyentuh Teteh.

“Mas Otong.., burungnya bangun ya..?”.
“Iya Teteh.., ah jadi malu Saya.., habis Saya lihat Teteh seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Teteh..”.
“Ah tidak apa-apa kok Mas Otong itu wajar..”.
“Eh ngomong-ngomong Mas Otong kapan mo nikah..?”.
“Ah belum terpikir Teteh..”.
“Yah.., kalau mo’ nikah harus siap lahir batin lho.., jangan kaya’ mantan suami Teteh.., tidak bertanggung jawab kepada keluarga.., nah akibatnya sekarang Teteh harus bersetatus janda.

Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya Teteh juga memperhatikan.

“Mas Otong burungnya masih bangun ya..?”.
Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Teteh Ita meraba burungku.
“Wow besar juga burungmu, Mas Otong.., burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom..?”.
“Belum..!!”, jawabku.

“Iya emang kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, Aku sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku..?”, kataku sambil terus menikmati elusan tangan Teteh Ita.
“Wah.., Teteh yakin, yang nanti jadi istri Mas Otong pasti bakal seneng dapet suami kaya Mas Otong..”, kata Teteh sambil terus mengelus burungku. Oughh.., nikmat sekali dielus Teteh dengan tangannya yang halus dan putih itu.

Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa basa-bsi aku melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu karena nafsuku sudah di ubun-ubun dan teh ita pun tampaknya tidak keberatan handuknya aku lepaskan.

“Ough.., Teteh.., kamu seksi sekali.., ough..”, desahku sambil memegangi dan kagum akan indahnya payudara teh ita.

Aku kaget, tiba-tiba Teteh menghentikan kegiatannya mengelus burungku, dia pegangi burungku sambil menuntunku berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Teteh Ita naik sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.

“Mas Otong.., berbuatlah sesukamu.., cepet Mas.., cepet..!”.
Tanpa basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut.., woow.., pemandangan begini indah, vagina dengan bulu yang cukup lebat namun rapi. Aku jadi tidak percaya kalau Teteh Ita sudah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya.

Aku lahap rakus vagina Teteh, aku mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali aku masukkan lidahku ke lubang vaginanya.

“Ough Mas.., ough..”, desah Teteh sambil memegangi susunya sendiri.
“Terus Mas.., Maas..”, aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu aku masukkan lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.

Kemudian Teteh Ita membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas.

“Ayo Mas Otong.., Teteh sudah tidak tahan.., mana burungmu Mas.. burungmu sudah pengin ke sarangnya.., wowww.., Mas Otong.., burung Mas Otong kalau bangun dongak ke atas ya..?”. Aku hampir tidak dengar komentar Teteh Ita soal burungku, aku melihat pemandangan demikian menantang, vagina dengan rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya.

“Aughh..”, teriak Teteh.
“Kenapa Teteh..?”, tanyaku kaget.
“Udahlah Mas.., teruskan.., teruskan..”, aku masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali.
“Teteh.., sempit sekali Teteh.?”.
“Tidak apa-apa Mas.., terus saja.., soalnya sudah lama sich Teteh tidak ginian.., ntar juga nikmat..”.
Yah.., aku paksakan sedikit demi sedikit.., baru setengah dari burungku amblas.., Teteh Ita sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.

ngentot diatas meja

“Augh.., Mas.., ouh.., Mas.., nikmat Mas.., terus Mas.., oughh..”.
Begitu juga aku.., walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya oughh luar biasa.., nikmat sekali.

Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali ini burungku sudah amblas dimakan vagina Teteh Ita. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Teteh Ita. Tiba-tiba Teteh terduduk sambil memelukku, mencakarku.

“Oughh Mas.., ough.., luar biasa.., oughh.., Mas Otong..”, katanya sambil merem-melek.
“Kayaknya ini yang namanya orgasme.., ough..”, burungku tetap di vagina Teteh Ita.

“Mas Otong sudah mau keluar ya..?”. Aku menggeleng. Kemudian Teteh Ita telentang kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan. Teteh Ita semakin mendesah, “Ough.., Mas..”, tiba-tiba Teteh Ita memelukku sedikit agak mencakar punggungku.

“Oughh Mas.., aku keluar lagi..”, kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin terasa, aku dibuat terbang rasanya. Ach rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Teteh Ita.

“Teteh.., Aku keluarin dimana Teteh..?, di dalam boleh nggak..?”.
“Terrsseerraah..”, desah Teteh Ita. Ough.., aku percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku.

Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku aku muntahkan dalam vagina Teteh Ita, masih aku gerakkan badanku rupanya kali ini Teteh Ita orgasme kembali, dia gigit dadaku.

“Mas Otong.., Mas Otong.., hebat Kamu Mas”.
Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Teteh Ita masih tetap telanjang telentang di atas meja, dan dari dalam vaginanya keluar cairan kental, mungkin campuran pejuhku dan cairan memek teh ita.

memek muncrat

“Mas Otong.., kalau mau beli rokok lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah kalau sudah tutup digedor saja.., tidak apa-apa.., malah kalau tidak digedor Teteh jadi marah..”, kata Teteh menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak.

“Teteh ingin Mas Otong sering bantuin Teteh tutup warung”, kata Teteh sambil tersenyum genit. Lalu aku pulang.., baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat.

Keesokan harinya ketika aku hendak berangkat ke kantor, saat di depan warung Teteh Ita, aku di panggil Teteh.

“Rokoknya sudah habis ya.., ntar malem beli lagi ya..?”, katanya penuh pengharapan, padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud perkataan Teteh Ita tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.

Bersambung…

Bagikan: